Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Menarik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

Termasuk Ortu Mana Kita ?


RENUNGAN AKHIR PEKAN

Keluarga Indonesia yg saya cintai dimanapun anda berada,  mari kita cermati tulisan berikut ini:

 Orang Sukses akan selalu berpikir tentang, bagaimana?
Orang Kebanyakan selalu akan berpikir, sedang ada apa ini?
Orang gagal selalu akan berpikir, siapa dan mengapa?

Sewaktu Thomas Edison di keluarkan dari sekolah kelas 1 SD (padahal baru 3 bulan bersekolah) karena dinyatakan ADHD dan tidak mampu mengikuti pelajaran disekolah maka Nancy Alliot, ibundanya langsung berpikir... Bagaimana ya...? agar anakku tetap bisa belajar meskipun tidak harus bersekolah..., maka di jadikanlah garasi mobil rumahnya sebagai tempat Edison belajar dan melakukan experiment mekaniknya.  Hingga akhirnya ia menjadi orang sukses, pendiri perusahan General Electric, salah satu pemasok Pesawat Boing.  Satu2nya produsen Pesawat Komersial di dunia.

Nancy Alliot tidak pernah bertanya pada dirinya sedang ada apa ini dengan nasibku, ia juga tidak mau bertanya mengapa peristiwa malang ini menimpaku apa lagi bertanya tentang siapa yg telah bersalah dalam hal ini.  Tapi ia langsung berpikir bagaimana caranya...... 

Sewaktu Albert Einstein sering bolos sekolah pada mata pelajaran yg tidak disukainya, dan lebih memilih duduk di pinggir danau dan berkhayal dengan pikiran2 eksotiknya, hingga pada akhirnya ia tidak mau mengikuti ujian di mata pelajaran yg tidak disukainya, hingga pada akhirnya ia tidak memiliki ijazah SD, SMP dan hampir saja SMA (terpaksa ia ambil karena Ijazah SMA menjadi prasyarat masuk Perguruan tinggi di Polytechnic Zurich Swiss).

Kedua orang tuanya langsung berpikir Bagaimana ya... agar Einstein kecil tetap bisa melanjutkan sekolah meskipun hanya berbekal surat keterangan pernah bersekolah SD, SMP dan SMA....  Meskipun dengan susah payah akhirnya masih ada juga sekolah SMP dan SMA yg masih mau menerim Einstein untuk bersekolah, dan puncaknya sewaktu anaknya ingin melanjutkan perguruan tinggi maka orang tuanya terpaksa harus keluar Jerman untuk mencari perguruan Tinggi yang mau menerima anaknya, hingga akhirnya Einstein di terima di Politechnic Zurich Swiss.  Hingga akhirnya ia di nobatkan menjadi salah satu Jenius Dunia dan mendapatkan Gelar Bangsawan Jerman (meskipun pada akhirnya ditolaknya)  Fotonya di pajang di berbagai tempat termasuk bimbel2 di Indonesia sebagai SIMBOL KEJENIUSAN DUNIA.

Orang tua Einstein tidak pernah berpikir sedikitpun untuk bertanya tentang  ADA APA dengan anakku...?  Mengapa ia menjadi anak yg bermasalah...? dan Siapa yg bersalah dalam hal ini....?   Tapi mereka langsung berpikir tentang  BAGAIMANA agar anakku tetap bisa belajar dan menjadi orang besar meskpun tidak menyukai sekolahnya.

 Sewaktu Sir Isac Newton sedang asyik2nya tertidur dibawah pohon apel.... tiba2 kepalanya tertimpa buah apel dan terbangun... maka sebenarnya ia bisa memilih untuk bertanya....  Ada apa dengan pohon apel ini, oh rupanya buahnya sudah matang, atau siapa yg iseng melempar buah apel ke kepalaku..?  Atau mengapa ada saja selalu yg mengganggu tidurku...?  

Sama sekali tidak...!  ia lebih memilih pertanyaan BAGAIMANA,  ya...! bagaimana buah ini bisa jatuh ke bawah....?   Maka lahirlah Teori Gravitasi Newton.
  
Ternyata orang2 sukses terlahir bukan dari banyaknya warisan harta dari orang tuanya, atau bukan juga dari faktor turunan genetika, tapi lebih banyak yg terlahir dari bagaimana orang tuanya berpikir dan mengasuhnya...  Apakah dalam melihat persolan yg dihadapi anaknya lebih banyak menggunakan pertanyaan siapa....? dan terus mencari kambing hitamnya.   Ataukah lebih banyak menggunakan pertanyaan ADA APA...? dan terus meratapi nasibnya dan merasa hidup ini tidak adil padanya.... ataukah  lebih sering menggunakan pertanyaan   BAGAIMANA..?  untuk selalu berpikir positif dan mencari jalan keluar terbaik dari persolah yg dihadapi anaknya.

Termasuk orang tua yg manakah kita....?   
  1. Orang tua sukses
  2. Orang tua kebanyakan
  3. Orang tua gagal

Pilihan pertanyaan kita dalam menyelesaikan persoalan anak2 kita ternyata sangat menentukan sukses dan gagalnya masa depan mereka  !!!   

Hidup ini adalah pilihan,  nasib kita saat ini adalah kumpulan dari pilihan2 pikiran dan pertanyaan yg kita lakukan sejak 5 tahun yang lalu, dan nasib kita 5 tahun mendatang ditentukan oleh pilihan2 kita SEKARANG  – John F Kennedy-

Selamat menentukan pilihan masa depan anak anda sekarang juga !!!! 


Rabu, 16 Juni 2010

Filosofi Do'a

Secara eksplisit, kita menyadari bahwa Allah-lah Penguasa segalanya. Namun, secara implisit, sering kali sikap dan perilaku kita bertolak belakang. Kita menyepelekan kenyataan itu dengan mengabaikan berdoa, memohon kepada Allah. Menganggapnya tidak terlalu penting. Tidak sungguh-sungguh meluangkan waktu untuk memanjatkan doa. Bahkan tidak jarang, dalam keadaan sulit pun kita hanya memanjatkan doa seperlunya. Kita juga tidak menunjukkan itikad keras untuk belajar memanjatkan doa.

Inilah sebetulnya bentuk kesombongan kita yang kita pendam di dalam alam bawah sadar kita (unconsciousness). Tentu tidak pernah terbetik dalam diri kita untuk menandingi apalagi menantang kekuasaan Allah. Namun, dengan tidak pernah meminta, dengan hanya meminta seperlunya, dengan tidak meminta bantuan, kita sesungguhnya menunjukkan sikap tak bersahabat. Tidak berusaha menegur sapa Allah, Yang Mahakuasa.

Terkabul atau tidak doa kita, yang perlu diperhatikan adalah beberapa hal berikut.
Pertama, Allah Mahatahu atas segala urusan yang terdahulu, sekarang maupun akan datang. Allah juga Mahatahu apa yang terbaik dan terburuk bagi kita. Allah Mahatahu apa yang tampak dan tersembunyi bagi kita. Allah lebih mengetahui daripada diri kita sendiri. “Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui atas segala sesuatu,” demikian firman Allah yang tersebar di beberapa surat dalam Al-Qur`an.

Kedua, karena itu, kita harus menguatkan sikap husnuzhan kepada Allah mengenai hasil doa kita. Dikabulkan maupun tidak dikabulkan, Allah Mahatahu yang terbaik untuk kita. Di sini, kita harus mengendalikan hawa nafsu untuk tidak mengikuti perasaan bahwa kita 100 persen tahu apa yang terbaik untuk kita sendiri.

Ketiga, dikabulkannya permintaan kita tentang suatu hal bisa berlaku di dunia maupun di akhirat. Boleh jadi, doa kita tidak dikabulkan di dunia, namun digantikan oleh Allah di akhirat jika kita melakukan doa dengan ikhlas.

Keempat, ukuran untuk menentukan apakah doa kita dikabulkan atau tidak tetap merupakan kuasa Allah. Namun, kita harus tetap memanjatkan doa kepada-Nya tanpa putus. Pandangan kita tentang urusan kita sendiri boleh jadi salah, boleh jadi benar. Hal itu relatif. Sebaliknya, pengetahuan Allah tentang diri kita adalah mutlak benar.
Simak ayat berikut.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah [2]: 216)

Khasiat Wudhu

Baru-baru ini, Prof Leopold Werner von Ehrenfels, seorang psikiater dan sekaligus neurology berkebangsaan Austria, menemukan sesuatu yang menakjubkan tentang wudhu. Ia mengemukakan bahwa pusat-pusat syaraf yang paling peka, yaitu sebelah dahi, tangan, dan kaki. Pusat-pusat syaraf tersebut sangat sensitif terhadap air segar. Dari sini ia menghubungkan hikmah wudhu yang membasuh pusat-pusat syaraf tersebut.

Ia bahkan merekomendasikan agar wudhu bukan hanya milik dan kebiasaan umat Islam, tetapi untuk umat manusia secara keseluruhan. Dengan senantiasa membasuh air segar pada pusat-pusat syaraf tersebut, maka berarti orang akan memelihara kesehatan dan keselarasan pusat sarafnya. Pada akhirnya Leopold memeluk agama Islam dan mengganti nama menjadi Baron Omar Rolf Ehrenfels.

Demikian sebagaimana dikutip oleh Prof Dr H Nasaruddin Umar dalam rubrik Hikmah, Ensiklopedia Islam, www.republika.co.id (13/5/2010). Lebih lanjut ia juga menambahkan bahwa ulama fikih juga menjelaskan hikmah wudhu sebagai bagian dari upaya untuk memelihara kebersihan fisik dan rohani. Daerah yang dibasuh dalam air wudhu, seperti tangan, daerah muka termasuk mulut, dan kaki memang paling banyak bersentuhan dengan benda-benda asing termasuk kotoran. Karena itu, wajar kalau daerah itu yang harus dibasuh.

Sedangkan ulama tasawuf menjelaskan hikmah wudhu dengan menjelaskan bahwa daerah-daerah yang dibasuh air wudhu memang bukti-ilmiah-wudhu1daerah yang paling sering berdosa. Kita tidak tahu apa yang pernah diraba, dipegang, dan dilakukan tangan kita. Banyak pancaindera tersimpul di bagian muka.

Berapa orang yang jadi korban setiap hari dari mulut kita, berapa kali berbohong, memaki, dan membicarakan aib orang lain. Apa saja yang dimakan dan diminum. Apa saja yang baru diintip mata ini, apa yang didengar oleh kuping ini, dan apa saja yang baru dicium hidung ini? Ke mana saja kaki ini gentayangan setiap hari? Tegasnya, anggota badan yang dibasuh dalam wudhu ialah daerah yang paling riskan untuk melakukan dosa.

Di dalam buku Mukjizat Berwudhu karya Drs. Oan Hasanuddin, R.O, Akp, MA. dijelaskan bahwa anggota badan yang dibasuh air wudhu memiliki titik akupresure dan akupunktur yang sangat bermanfaat bagi kesehatan seseorang. Titik-titik tersebut merupakan bagian titik pijat dan akupunktur untuk mengobati berbagai macam penyakit.

Tidak hanya itu, masih banyak lagi tentang hikmah wudhu, baik yang sudah ditemukan maupun yang belum tergali oleh ahli kesehatan. Hikmah-hikmah ini semakin menguatkan bukti bahwa syariat dari Allah SWT bukanlah hal yang sia-sia untuk diterapkan, tapi justru membawa kemaslahatan besar bagi pelakunya dan semakin meningkatkan keimanan seseorang terhadap kebenaran perintah Allah SWT.

Do'a

Terkait dengan doa, ada beberapa pertanyaan yang kerap muncul. Apakah doa itu dilakukan untuk mencegah sesuatu kejadian yang belum diketahui atau yang sudah dikenali tanda-tandanya saja? Seperti bencana di Aceh, apakah kalau sebelum atau setelah dikenali lebih dahulu tanda-tanda atau ciri-ciri akan tsunami, baru kemudian doa itu diperlukan? Atau pada saat jelang kejadian, baru kemudian doa kita panjatkan?
Ataukah doa itu semata-mata sebagai respons atas kejadian yang tidak diinginkan atau untuk cita-cita yang ingin dicapai? Di sinilah doa perlu diposisikan sebagai hal yang tidak saja diperlukan dalam kondisi tertentu, sebab hidup itu sendiri adalah doa.

Doa itu berbeda dengan mantra-mantra. Doa memiliki tempat yang sangat terhormat di dalam Islam. Doa tidak tepat diposisikan semacam “proposal” yang biasanya hanya diajukan kepada pihak tertentu untuk kepentingan tertentu saja, yang kalau diterima atau ditolak, lalu selesai. Sekali lagi tidak!!! Sebab, kepentingan manusia kepada Tuhannya itu adalah setiap saat dan di mana pun serta dalam kondisi apa pun.

Berbeda dengan kepentingan seseorang kepada pihak tertentu, setelah proposal diterima, selesailah perkara proposal, karena kepentingannya terbatas. Sementara manusia, kepentingan untuk dunia dan akhiratnya hampir tidak dapat terukur secara matematika.

Kedudukan doa dalam Islam adalah sebagai media penghubung antara Al-Khaaliq, (Pencipta) dan almakhluuq (yang diciptakan). Aturan doa itu berasal dari Allah melalui contoh yang dilakukan dan dianjurkan para rasul-Nya. Doa dalam Islam dilakukan baik dalam keadaan lapang maupun dalam keadaan susah. Baik dalam keadaan sehat maupun dalam kondisi sakit.

Dalam salah satu sabda Nabi saw disebutkan, “Janganlah merasa lemah untuk berdoa, sebab tidak akan binasa orang yang berdoa itu.” (HR Ibnu Hibban).

Sebab, memang doa itu adalah inti ibadah kepada Allah. Oleh sebab itu, Nabi bersabda, “Doa itu adalah inti ibadah.” (HR Tirmizdi).

Dengan demikian, pada Allah tidak menginginkan hambanya berdoa hanya dalam keadaan susah, atau sebaliknya dalam keadaan lapang. Sebab, Allah telah memberikan garis yang jelas. Kelapangan dan kesusahan adalah berkedudukan sama sebagai ujian dalam hidup.

Sebagaimana halnya kehidupan dan kematian berkedudukan seimbang sebagai ujian untuk mengetahui siapa di antara hamba-Nya yang “terbaik” amal perbuatannya. Dalam keyakinan Islam, pencapaian terhadap segala upaya manusia yang ingin dicapai senantiasa didasarkan pada dua hal secara bersamaan, yaitu usaha dan doa.

Semaksimal apa usaha seseorang dan seperti apa doanya? Adakah kesesuaian antara usaha dan doa? Sudahkah seirama antara usaha dan doa? Siapa tahu, usaha OK, tapi doa diabaikan karena memandang campur tangan Allah itu kecil pengaruhnya dalam pekerjaan kita. Antara usaha dan doa ibarat dua sisi yang mustahil dipisahkan dalam kehidupan keyakinan seorang muslim, sebab manusia hanyalah ciptaan Allah. Manusia, usaha manusia, dan doa manusia adalah satu garis dalam kedudukannya sebagai aturan Allah.

Sebagai contoh, setiap kali memulai suatu jenis kegiatan, mulailah dengan Bismillaah (Dengan nama Allah), dan akhirilah dengan Al-Hamdulillaah (Segala puji bagi Allah). Dalam konteks sederhana ini, sebenarnya telah berjalan seiring antara usaha dan doa. Dua kalimat, Bismillah dan Alhamdulillah adalah kekuatan yang penuh keajaiban apabila diselaraskan dengan semangat doa bekerja dan dalam keyakinan Islam, pencapaian terhadap segala upaya manusia yang ingin dicapai senantiasa didasarkan pada dua hal secara bersamaan, yaitu usaha dan doa. Semaksimal apa usaha seseorang dan seperti apa doanya? Adakah kesesuaian antara usaha dan doa? Sudahkah seirama antara usaha dan doa? Siapa tahu, usaha OK, tapi doa diabaikan karena memandang campur tangan Allah itu kecil pengaruhnya dalam pekerjaan kita.

Antara usaha dan doa ibarat dua sisi yang mustahil dipisahkan dalam kehidupan keyakinan seorang muslim, sebab manusia hanyalah ciptaan Allah. Manusia, usaha manusia, dan doa manusia adalah satu garis dalam kedudukannya sebagai aturan Allah. Sebagai contoh, setiap kali memulai suatu jenis kegiatan, mulailah dengan Bismillaah (Dengan nama Allah), dan akhirilah dengan Al-Hamdulillaah (Segala puji bagi Allah). Dalam konteks sederhana ini, sebenarnya telah berjalan seiring antara usaha dan doa.

Dua kalimat, Bismillah dan Alhamdulillah adalah kekuatan yang penuh keajaiban apabila diselaraskan dengan semangat doa bekerja dan kerja keras. Seperti halnya kekuatan kalimat tauhid kita “Syahadataini”. Dua kalimat yang selain sebagai ucapan tauhid, secara otomatis menjadi doa yang ampuh, karena “kekuatan kata” dan “kedahsyatan pesan” yang terkandung di dalamnya, dan itu telah banyak dibuktikan oleh para pengamalnya.

Pilih Miskin Atau Kaya ??

"Demi Allah, saya tidak takut dengan kemiskinan kalian, akan tetapi saya takut jikalau dunia menjadi lapang bagi kalian sebagaimana umat sebelum kalian sehingga mereka saling memperebutkannya."
Rasulullah saw bersabda,

"Demi Allah, saya tidak takut dengan kemiskinan kalian, akan tetapi saya takut jikalau dunia menjadi lapang bagi kalian sebagaimana umat sebelum kalian sehingga mereka saling memperebutkannya."

Gejala inilah yang nampak di tengah-tengah masyarakat kita. Sebuah pola hidup baru bagi sebuah masyarakat agraris. Gotong royong lambat laun pupus oleh egoisme individu yang berkembang. Kejujuran hilang ditutupi dengan kebohongan. Persaudaraan sulit ditemukan kecuali di dalamnya terdapat uang. Kesombongan menggeser sifat lugu, sopan, dan ketawadhuan. Perubahan cara pandang ini selanjutnya mengubah gaya hidup masyarakat.

Akan tetapi, jika masyarakat kita tidak berusaha untuk mencari kekayaan duniawi ini, masyarakat kita akan menjadi masyarakat bawah yang lemah dan mudah diombang-ambingkan. Rasulullah saw bersabda,

"Seorang mukmin yang kuat lebih dicintai oleh Allah dari pada seorang mukmin yang lemah."

Dengan logika sederhana pun, seseorang pasti akan membenarkan hadits ini. Logika ini membentuk sebuah asumsi, jika umat ini ingin menjadi besar sudah saatnya meninggalkan idealismenya menuju pada hal-hal yang pragmatis. Kita harus membangun rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, dan lembaga-lembaga lain yang memiliki tujuan membantu kehidupan umat. Untuk melaksanakan hal tersebut tidak mungkin terlaksana dengan finansial yang lemah.

Beranjak dari pemikiran ini, manakah yang lebih baik antara orang miskin yang sabar dengan orang kaya yang bersyukur? Seorang idealis mungkin akan memilih poin pertama, sebaliknya orang yang pragmatis akan memilih poin yang kedua. Pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi tidak mudah untuk menjawabnya. Bahkan, para ulama telah berselisih pendapat mengenai hal ini. Abu Ishaq bin Syaqilan, Qadhi Abu Ya'la, dan para pengikutnya mengatakan bahwa orang miskin yang bersabar itu lebih baik. Sebaliknya, Ibnu Qutaibah dan jamaahnya berpendapat bahwa orang kaya yang bersyukur lebih baik.

Jika kita runut ke belakang, kita akan temukan orang-orang miskin yang sabar, bahkan yang berpredikat nabi sekalipun. Mereka adalah Isa bin Maryam as, Yahya bin Zakaria as, Ali bin Abi Thalib, Abi Dzar Al-Ghifari, Mush'ab bin Umair, dan Salman AI-Farisi. Sedangkan orang-orang kaya yang bersyukur, di antaranya Ibrahim as, Ayub as, Dawud as, Sulaiman as, Usman bin Affan, Abdurrahman bin Auf, Thalhah, Zubeir, Sa'ad bin Muadz ra, dan masih banyak lagi. Lalu mana yang paling baik?

Kalau kebenaran kita sandarkan hanya kepada akal, jawaban tersebut tidak akan ditemukan. Tetapi jika standar kebenaran adalah Al-Qur`an, jawaban tersebut sangat jelas. Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kalian" (QS Al-Hujurat: 13). Lalu, seperti apa takwa yang diinginkan Islam? Kalau kita kembali runut dalam Al-Qur'an jawabannya akan semakin terlihat. Allah SWT berfirman,

"Maka bertakwalah sesuai kadar kemampuan kalian." (QS At-Taghabun: 16)

Artinya, stressing point dari lafal "takwa" adalah proses, dalam hal ini adalah usaha. Yakni, usaha seorang hamba untuk menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya (QS AI-Hasr: 7). Artinya, kebaikan bukan terletak pada kaya-miskinnya, tetapi lebih pada syukur dan sabarnya. Bertolak dari hal ini maka kita akan temukan golongan ketiga yang sangat sulit untuk dicari pada zaman ini. Golongan ini mendapat dua predikat sekaligus; miskin dan kaya. Karena kesederhanaannya golongan ini terlihat miskin, di sisi lain merupakan golongan orang yang berada dengan pendapatan yang melimpah. Dia adalah Nabi kita Muhammad saw. Wallahu a'lam.

* Artikel ini dikutip dari buku “Menjadi Pemenang Saat Diuji Allah” yang ditulis oleh Riri Atmajaya (QultumMedia: 2010).

Minggu, 13 Juni 2010

Bergaul dengan teman

Membudayakan dalam diri sifat selalu menahan diri dan suka memberi maaf atas segala kekhilafan teman-teman. Jangan sekali-kali menunjukkan sikap kasar dan kaku, sebab yang demikian itu termasuk sifat-sifat manusia-manusia tiran yang sombong. Jangan pula mengecam kepada seseorang diantara mereka yang melanggar hak pribadi atau kurang memperhatikannya. Kecuali apabila ia memang seorang yang benar-benar tulus dalam persahabatan dan telah teruji kesetiaannya. Akan tetapi apabila pelanggaran tersebut menyangkut hak Alloh atau hak-hak hamba-Nya, maka dalam hal ini jangan begitu saja memaafkan mereka. Hanya saja tetap diperlukan pertimbangan berkaitan dengan keadaan mereka dalam hal kuat atau lemahnya keyakinan keberagamaan. Maka hendaknya bersikap lebih lunak terhadap para pemula diantara mereka yang masih lemah agamanya, dibandingkan bila berhadapan dengan mereka yang sudah kuat. Akan tetapi bagaimanapun juga sikap lemah lembut merupakan hal yang secara mutlak lebih banyak mengandung kebaikan, maka hendaknya selalu lebih diutamakan dalam bersikap.Bergaullah dengan cara sebaik-baiknya. Lupakan saja kebanyakan diantara kesalahan-kesalahan mereka, khususnya kesalahan tertentu yang tidak akan terlepas darinya kecuali orang-orang khusus diantara hamba-hamba Alloh yang sholeh. Jadikanlah bincang-bincang bersama mereka itu selalu tentang hal-hal yang yang mendatangkan manfaat bagi mereka, yang mampu meluruskan agama mereka dan memenuhi hajat mereka dalam kehidupan dunia dan akherat mereka. Jangan berbincang dengan mereka dalam hal-hal selain itu, kecuali pada saat-saat tertentu dengan niat hanya sekedar menghibur hati, sepanjang memang diperlukan.Dan seandainya ada orang yang menyakiti hati, dengan ucapan ataupun perbuatan, memaki-maki, menyebut dengan sesuatu yang buruk di hadapan khalayak, maka janganlah membalasnya dengan perlakuan yang serupa. hendaknya memaafkannya dan melepaskannya dari dosa kesalahannya itu, tanpa menyisakan sedikitpun rasa dendam atau permusuhan terhadapnya. Seperti itulah akhlak yang layak disandang orang-orang shiddiqqin. Atau jika tidak mampu berbuat demikian, maka serahkan saja urusannya kepada Alloh dan cukuplah Alloh sebagai pembelamu terhadapnya.

Senin, 07 Juni 2010

Renungan ; Burung Dara dan Tikus

Dikisahkan sekelompok burung dara yang berjumlah ratusan ekor atau bahkan ribuan selalu terbang melintasi sebuah daerah. Ternyata selama ini, ada seorang pemburu yang setiap hari memperhatikan rute terbangnya gerombolan burung dara tersebut. Suatu hari, pemburu itu memasang umpan dan jerat di sebuah lokasi tempat melintasnya gerombolan burung dara. Tidak lama kemudian, gerombolan burung darapun terbang melintasai kawasan yang sudah dipasang jerat oleh pemburu tadi. Beberapa ekor burung dara ternyata melihat umpan yang ditaburkan oleh pemburu, sehingga mereka berteriak "Itu ada makanan dibawah, marilah kita turun!". Ternyata gerombolan burung dara itu memiliki raja yang memimipin mereka. Raja burung itu mengingatkan agar berhati-hati karena bisa saja itu jebakan. Ternyata dugaan raja burung tidak melesat, karena setelah semua mereka turun pemburu langsung menarik jeratnya hingga semua burung dara terjerat di jeratnya sang pemburu. Semua mereka meronta melepaskan diri dari jerat yang mengikat mereka, namun usaha mereka sia-sia saja. Akhirnya raja burung mengingatkan akan kebersamaan seraya berkata “Wahai saudara-saudaraku! bila masing-masing kita berjuang sendiri-sendiri, maka saya yakin semua kita akan celaka, marilah kita semua bersatu, kita kumpulkan semua kekuatan yang kita miliki, saya akan menghitung sampai tiga kali dan hitungan ketiga kita terbang secara serentak sehingga jerat ini bisa kita terbangkan”. Sesuai dengan instruksi raja burung dara semuanya secara serempak terbang dan menghasilkan kekuatan yang sangat besar, hingga jerat sang pemburu tercabut dan dibawa terbang oleh gerombolan burung dara.
Sang pemburu tenyata mengikuti arah terbangnya gerombolan burung dara, karena dia yakin nanti burung itu akan letih dan akan jatuh secara bersamaan. Raja burung dara mengetahui bahwa mereka diikuti, kemudian memerintahkan kawan-kawanya sambil berkata "Marilah kita terbang ke balik bukit itu, karena saya yakin pemburu itu tidak akan bisa mendakinya dan di balik bukit itu ada teman saya seekor tikus, marilah kita ke sana untuk meminta bantuannya melepaskan kita semua dari ikatan jerat ini”. Atas saran raja mereka, semua burung dara mengikutinya hingga sampailah mereka di balik bukit yang ditunjukan oleh raja mereka dan turunlah mereka di depan lobang tikus; sahabat raja burung dara itu. Raja burung dara berseru memanggil temannya tikus. Tak lama kemudian keluarlah tikus sahabatnya sambil bertanya keheranan "Apa yang terjadi sahabatku? Kenapa kakimu terjerat?". Raja burung menjelaskan peristiwa yang telah mereka alami dan berkata "Itulah maksud kedatangan saya dan teman-teman saya, meminta bantuanmu". Sang tikus lalu bergegas menuju kaki raja burung dara sahabatnya itu dan bermaksud melepaskan ikatan tali dari kakinya. Namun raja burung itu mengelak sambil berkata "Jangan saya yang engkau tolong terlebih dahulu, tetapi lepaskanlah tali ini dari kaki kawan-kawanku". Tikus menjadi heran dan bertanya "Ada apa denganmu? Bukankah engkau perlu bantuan?". Raja burung menjawab " Betul, saya perlu bantuanmu, tapi bila saya yang engkau tolong terlebih dahulu, saya khawatir karena jumlah kami banyak, engkau akan kehabisan tenaga sebelum semua kami engkau lepaskan dari ikatan ini. Dan mungkin engkau akan berhenti dan membiarkan mereka terjerat, karena antara engkau dan mereka tidak ada ikatan apa-apa, engkau hanya bersahat denganku. Nemun, bila aku yang engkau bebaskan terakhir, walaupun engkau mengalami kelelahan dan kepayahan disaat engkau melepaskan ikatan ini, namun ketika engkau masih melihatku terjerat, engkau pasti merasa kasihan dan akan tetap bersemangat serta tidak akan berhenti sampai semuanya bisa lepas dari ikatan ini". Sang tikus merasa sangat kagum dengan sikap temannya sebagai raja, terhadap bawahan dan rakyatnya.
Dari kisah di atas, dapat diambil sebuah pelajaran tentang bagaimana sikap seorang pemimpin dalam memberikan pengayoman kepada rakyatnya. Seorang pemimpin hendaklah lebih mendahulukan keselamatan dan kemashlahatan rakyatnya di atas keselamatan dan kepentingannya sendiri. Pemimpin sepeerti itu adalah pemimpin yang menjadi teladan bagi masyarakatnya. Kepemimpinan seperti itulah yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah saw. dan para khalifah ar-Rasyidun sesudahnya. Bahkan Umar bin Khattab ra. pernah berkata “Bilamana umat ini ditimpa kelaparan biarlah, saya yang pertama merasakan lapar itu, namun bilamana umat ini merasa kekenyangan biarlah saya orang terakhir yang merasakan kenyang itu". Itulah bentuk seorang pemimpin (imam) yang selalu mengedepankan kebaikan dan kepentingan rakyatnya.

Renungan

Suatu ketika, seekor burung merpati hendak bertelur, maka mulailah ia membangun sarang dengan mengumpulkan dan merajut berbagai jenis dedaunan dan rerumputan. Ia membangun sarang di atas sebuah pohon korma yang tinggi menjulang ke langit.
Setelah bertelur kemudian mengeraminya, maka tibalah saat anaknya lahir. Akan tetapi, begitu anaknya lahir datanglah seekor srigala yang berteriak di bawah pohon korma tempat merpati bersarang. Srigala itu menyuruh merpati agar menjatuhkan anak-anaknya dan menggertaknya dengan ancaman jika ia tidak menjatuhkan anaknya, maka srigala itu akan naik ke atas pohon dan memakannya. Merasa takut akan ancaman srigala itu, merpati dengan berat hati menjatuhkan anaknya untuk menjadi santapan srigala.
Kemudian masa terus berlalu, hingga datang kembali masa bertelur burung merpati tersebut. Seperti biasanya ia kembali membangun sarang di puncak sebuah batang korma. Setelah bertelur, mengerami, maka tibalah saat kelahiran anak-anaknya. Teringat kejadian yang lalu, burung merpati kembali merasa sedih dan cemas, karena ia yakin srigala itu akan datang lagi dan meminta anak-anaknya untuk menjadi santapan.
Burung merpati sedang dirudung rasa sedih, cemas, dan takut, hingga dia bermenung di atas pelepah korma tempat dia bersarang. Saat itulah datang seekor bangau yang sedang melintasi pohon tempat merpati bermenung. Melihat kondisi merpati yang sedang menanggung beban dan masalah yang amat berat, burung bangau berhenti dan bertanya, “Apa gerangan yang membuat engkau bersedih seperti ini?”. Merpati menjawab, “Bagaimana saya tidak akan bersedih dan risau, karena sebentar lagi anak-anak saya akan lahir. Akan tetapi, saya yakin srigala itu datang lagi dan meminta anak saya untuk menjadi makanannya. Itulah yang terjadi terhadap anak-anak saya sebelumnya”.
Mendengar cerita burung merpati, bangau menjadi tertawa melihat kepolosan merpati. Ia berkata, “Maukah engkau saya ajarkan cara selamat dari ancaman srigala itu?”. Burung merpati menjawab dengan rasa senang hati, “Tentu wahai sahabatku”. Bangau kemudian berkata, “Nanti, jika ia kembali datang kepadamu dan meminta anakmu katakan kepadanya, aku tidak akan memberikan anak-anakku, jika engkau mau silahkan engkau naik ke atas batang pohon ini”. Srigala itu tidak akan berani naik ke atas pohon ini, karena ia tidak bisa naik pohon.
Seperti dugaan merpati, setelah anaknya lahir kembali srigala itu datang kepadanya dan meminta anak-anaknya. Sesuai anjuran bangau, merpati berteriak dari atas pohon, “Kalau engkau ingin anakku, silahkan naik sendiri ke atas batang pohon ini”. Mendengar jawaban merpati srigala merasa heran, lalu bertanya, “Siapa yang mengajari engkau berbicara seperti itu?”. Dengan cepat merpati menjawab, “Burung bangau yang telah mengajari aku”. Srigala kembali bertanya, “Di mana saya akan menemuinya”. Jawaban merpati, “Dia ada di pingir sungai, dengan menunjuk ke arah di mana burung bangau berada”.
Srigala kemudian bergegas ke tempat burung bangau berada, dan seperti yang ditunjukan merpati, ternyata ia memang sedang bermain di pinggir sungai.
Dengan wajah ceria dan penuh persahabatan srigala mendekati bangau sambil berkata, “Alangkah sempurnaya ciptaan Tuhan terhadapmu wahai burung bangau. Engkau diberikan Tuhan sesuatu yang tidak dimiliki makhluk lain. Engkau memiliki tubuh yang indah, leher yang panjang, dan sayap yang indah. Engkau bisa melakukan perjalan dalam sehari yang makhluk lain melakukannya dalam setahun. Akan tetapi, saya tidak tidak tahu bagaimana caranya engkau melindungi kepalamu dari terpaan angin kencang?”. Burung bangau terlena mendengar pujian srigala, hingga dengan bangga ia menjawab, “Caranya sangat gampang temanku, jika angin datang dari arah kanan maka saya menyembunyikan kepala saya di dalam sayap yang sebelah kiri. Jika anginnya datang dari arah kiri, maka saya menyembunyikan kepala saya di sayap sebelah kanan”. Srigala kembali bertanya, “Bagaimana jika yang datang adalah angin puting beliung dan bertiup dari semua arah, di manakah engkau sembunyikan kepalamu?”. Bangau menjawab, aku menyembunyikan kepalaku di bawah badan”. Srigala berkata, “Bagaimana mungkin engkau akan melakukannya, saya benar-benar tidak percaya sebelum aku melihatnya”.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi, bangau mencontohkan bagaimana ia menyembunyikan kepalanya di bawah badannya. Saat itulah dengan cepat srigala melompat menerkam leher bangau, hingga ia jatuh tak berdaya dan menjadi santapan srigala.
Dari kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran. Pertama, seseorang yang memberi yang nasehat orang lain untuk sebuah kebaikan, maka semestinya yang memberi nasehat juga harus mengamalkan nasehatnya itu. Sebab, orang yang menasehati orang lain namun melupakan dirinya sendiri tidak ubahnya seperti lilin yang menerangi orang lain, dan membakar dirinya sendiri. Teramat buruklah sifat manusia yang seperti itu, karena bukan hanya dia akan merugi di dunia namun juga merugi di akhirat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa manusia yang bersifat seperti demikian, akan dibangkitkan dari kuburnya dalam kondisi tanpa kepala. Sangatlah tepat jika Allah mencela manusia yang memiliki sifat seperti ini. Seperti celaan Allah dalam surat al-Baqarah [2]: 44
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?.”
Begitu juga celaan Allah dalam surat ash-Shaf [61]: 3
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
Artinya: “Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.”
Kedua, dalam hidup di dunia ini sikap waspada harus selalu dimiliki termasuk kepada orang-orang terdekat sekalipun. Buruk sangka memang sesuatu yang dilarang dan merupakan sebuah dosa di sisi Allah. Namun, kewaspadaan adalah sikap yang mesti dimiliki setiap manusia, karena tidak semua orang senang dan menginginkan kebaikan untuk kita. Atau bahkan tidak selamanya orang yang kita cintai dan sayangi mendatangkan kebaikan bagi kita. Itulah yang diingatkan Allah dalam surat al-Anfal [8]: 28
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”
Begitu juga dalam surat at-Taghabun [64]: 14
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ…
Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;…”
Ketiga, jika seseorang berbuat baik, maka semesti kita membalasnya dengan kebaikan pula, atau bahkan berbuat yang terbaik baginya sebagai balasan kebaikan yang sudah kita terima. Janganlah hendaknya seperti merpati yang diberikan kebaikan oleh bangau, namun dia sendiri memberikan kecelakaan bagi orang yang telah berbuat baik kepadanya. Bukankah Allah telah mengingatkan dalam surat ar-Rahman [55]: 60
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya: “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
Begitu juga dalam surat al-Isra’ [17]: 7, Allah swt. mengingatkan bahwa kebaikan yang kita lakukan adalah untuk diri kita sendiri balasannya. Seperti firman-Nya
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ…
Artinya: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri …”
Keempat, seseorang tidak boleh lengah dan terlena dengan pujian orang lain, karena pujian itu belum tentu sesuai dengan sebenarnya. Sangat mungkin sekali ketika seseorang memuji kita, ada sesuatu yang diinginkannya. Dalam sebuah ungkapan bijak disebutkan “Pujian adalah racun yang paling ampuh membunuh seseorang tanpa dia sendiri menyadarinya”.
Oleh karena itu, jika seseorang memuji kita maka sebaiknya kembalikanlah kelebihan itu kepada Allah. Sebab, semua kelebihan yang dimiliki seseorang adalah berasal dari Allah dan diberikan atas kemurahan-Nya. Itulah yang pernah diucapkan oleh nabi Sulaiman as. atas kelebihan yang dimilikinya. Seperti yang terdapat dalam surat an-Naml [27]: 40
...فَلَمَّا رَآهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي ءَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ….
Artinya: “…Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan ni`mat-Nya)…”

Renungan

Suatu ketika malaikat Jibril diperintah oleh Allah untuk bertanya kepada kerbau, apakah ia senang dan bahagia diciptakan sebagai sesekor kerbau. Maka pergilah Jibril menemui kerbau yang ketika itu sedang berenang di sebuah sungai di bawah teriknya sinar matahari. Jibril pun bertanya kepadanya, “Hai Kerbau, apakah engkau senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor kerbau?”. Kerbau menjawab, “Alhamdulillâh saya senang dan bahagia sekali diciptakan Allah menjadi seekor kerbau, sehingga saya bisa berenang di air sungai seperti ini. Daripada aku diciptakan sebagai seekor kelelawar yang mandi dengan air kencingnya sendiri.”
Kemudian, malaikat Jibril pun berangkat menemui kelelewar dan menanyakan apakah dia senang dan bahagia diciptakan sebagai kelelawar. Kelelawarpun menjawab “Alhamdulillâh saya sangat senang dan bahagia diciptakan menjadi kelelawar, dengan sayap yang diberikan Allah saya bisa terbang ke mana saja dalam waktu yang singkat dan cepat. Daripada saya diciptakan sebagai seekor ulat yang ukuran tubuhnya kecil dan berjalan melata di atas bumi”.
Malaikat Jibrilpun berangkat menemui ulat dan bertanya kepadanya apakah ia senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor ulat. Ulatpun menjawab, “Alhamdulillâh saya sangat senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor ulat, walaupun berjalan melata di muka bumi namun masih dapat menyaksikan dan menatap cahaya matahari. Tidak seperti cacing yang hidup di dalam tanah, tidak berani menatap matahari dan berjalan menarik tubuhnya”.
Maka Jibril pun berangkat menemui cacing dan bertanya kepadanya apakah ia senang dan bahagia diciptakan menjadi seekor cacing. Cacingpun menjawab, “Alhamdulillâh saya senang dan bahagia diciptakan sebagai seekor cacing. Walaupun tubuh saya kecil dan berdiam di dalam tanah serta tidak bisa menatap matahari, namun kalau saya nanti mati saya tidak akan mempertanggungjawabkan apa yang telah aku lakukan kepada Tuhan. Dari pada saya diciptakan menjadi manusia yang sempurna, namun jika dia tidak mampu beramal kebajikan dan menggunakan kesempurnaannya itu untuk beribadah kepada Tuhan, maka selamanya dia akan menerima siksa dari Tuhan.
Dari kisah di atas dapat diambil beberapa pelajaran. Pertama, bahwa dalam hidup di dunia ini kita haruslah selalu memandang ke bawah. Jangan membiasakan diri memandang ke atas karena akan membuat kita “silau” karenanya. Orang yang selalu melihat ke bawah akan senantiasa bersyukur dengan kondisinya apapun bentuknya. Sebab, dia akan merasakan bahwa kondisinya jauh lebih baik dan lebih sempurna bila dibandingkan orang lain.
Kedua, manusia selaku makhluk sempurna akan diminta pertanggungjawaban atas kesempurnaannya itu. Allah telah memberikan akal dan rohani kepadanya yang tidak dimiliki oleh makhluk lainnya. Dengan itu juga manusia dibebani dengan serangkaian tugas dan kewajiban yang mesti ditunaikannya. Jika dia tidak mampu maka kelak dia akan menerima siksa dari Allah. Berbeda halnya dengan binatang yang tidak akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Oleh karena itu, manusia haruslah mempersiapkan dirinya untuk menghadapi pertanyaan Tuhan nanti di akhirat dengan melakukan amal-amal shalih.

Jumat, 07 Mei 2010

Segera muncul Kotoran komet Halley

VIVAnews - Sudah 24 tahun Komet Halley tidak lagi mengunjungi sistem tata surya tempat Bumi berdiam. Namun "kotoran" yang ditinggalkan benda angkasa pengembara itu akan terlihat pada Kamis pagi waktu Amerika Serikat (AS) dalam bentuk hujan meteor Eta Aquarid.

Kolumnis Space.com, Joe Rao, mengungkapkan bahwa hujan meteor itu diprediksi mulai terlihat paling awal pada Kamis dini hari, 6 Mei 2010 waktu AS (sore WIB). "Dalam kondisi ideal - yaitu langit masih gelap dan tidak ada bulan - akan terlihat 40 meteor yang melaju cepat setiap jam," tulis Rao.

Dia juga memperkirakan bahwa hujan meteor itu masih bisa terlihat seperempat dari kekuatan puncak selama tiga atau empat hari sebelum atau setelah 6 Mei.

Muncul, Embrio Bintang yang Melebihi Matahari Embrio itu diperkirakan bisa tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar di galaksi

VIVAnews - Sebuah calon bintang raksasa dengan massa jauh lebih besar dibanding Matahari di tata surya ini sedang tumbuh dalam sebuah gelembung gas. Gambar embrio bintang tersebut terekam oleh teleskop Herschel milik Badan Luar Angkasa Eropa (ESA).

Menurut laman stasiun televisi BBC, 6 Mei 2010, citra gelembung gas yang disebut RCW 120 itu dirilis beberapa hari menjelang peringatan satu tahun peluncuran teleskop Herschel ke orbit. ESA meluncurkan teleskop Herschel pada 14 Mei 2009.

Detektor inframerah milik Herschel mampu melihat materi bersuhu rendah yang bisa melahirkan bintang. Citra seperti RCW 120 akan membantu menjelaskan bagaimana proses sebuah bintang raksasa terbentuk.

DiBalik Misteri Segi Tiga Bermuda

Segitiga Bermuda dilingkupi aura mistis, seperti UFO, Altantis, dan bahkan iblis Dajal.

VIVAnews - Misteri melingkupi sebuah wilayah laut di dalam garis imajiner yang menghubungkan tiga wilayah yaitu Bermuda, Puerto Riko, dan Miami di Amerika Serikat.

Ada yang menyebutnya 'Segitiga Setan', 'Limbo the Lost', 'Twilight Zone', dan yang paling tenar adalah sebutan 'Segitiga Bermuda -- terinspirasi dari artikel Vincent Gaddis di Majalah Argosy.

Meski, dalam peta Amerika Serikat, The U. S. Board of Geographic, tak ada tempat bernama 'Segitiga Bermuda'.